9 Ciri Anak Cocok Memilih Homeschooling

 

“Setiap proses yang dilalui adalah  keinginan dan ikhtiar untuk memberikan yang terbaik bagi anak” (Bunda Irma)

Sahabat Bunda Irma,

Era Pandemi saat ini semua anak menjalani Sekolah di rumah ya ? Namun perlu diketahui ada perbedaan konsep Home Schooling  dan  Sekolah klasikal reguler. Apa itu HomeScooling? Nanti di jelaskan di artikel lainnya ya.

Nah, Sababat Bunda Irma,

9 Ciri anak-anak yang cocok untuk menjalani Home Schooling sebagai berikut :

1. Anak yang sering kena bullying di Sekolah.

Anak yang sering kena bullying di sekolah, membuat si anak menjadi rendah diri. Prestasinya semakin menurun. Komunikasi jadi buruk. Kalau suasana ini terus-menerus menerpa si anak, sangat tidak bangus bagi perkembangan psikologis dan mental anak. Home Schooling bisa jadi alternatif bagi si anak.  Dengan Home Schooling anak tetap belajar dan terhindar dari perilaku bullying di sekolah.

2. Anak yang sering tertinggal pelajaran.

Anak tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Anak selalu tertinggal jadwal pelajaran di kelas.  Sebenarnya belum tentu anak tersebut tidak pintar. Perlu digali lagi kenapa si anak tertinggal pelajaran. Mungkin tidak cocok dengan kurikulum klasikal. Home Schooling bisa jadi alternatif bagi si anak. Dengan Home Schooling anak tetap belajar dan mengejar ketinggalan pelajaran. Suanana Home Schooling lebih nyaman dan kondusif bagi anak.

3. Anak yang sering mogok sekolah.

Ketika anak mogok sekolah, perlu di cari penyebabnya. Apakah di  Sekolah suasana tidak menyenangkan ? Apakah di sekolah  kurang menarik? Apakah susana di sekolah terlalu kaku dan monoton bagi si anak ?  bisa lebih di gali kendala lainnya. Namun pendidikan bagi anak, harus terus belanjut. Home Schooling bisa jadi solusi alternatif untuk anak. Supaya anak tetap belajar, sekaligus mengembalikan motivasi belajarnya, serta menggali potensinya.

4. Anak yang sering dianggap nakal dan mengganggu.

Benar gak sih ada anak nakal ? mungkin yang dimaksud adalah perbedaan ekspektasi orang dewasa terhadap anak, sehinggal anak dianggap tidak patuh (nakal). Misalnya anak yang dalam ekspektasi orang dewasa, si anak susah di atur, selalu membangkang, tidak patuh, usil menganggu teman lainnya, ketika hal itu terjadi di sekolah reguler (klasikal) maka akan menjadi suasana yang kurang kondusif bagi lingkungan sekolah sehingga si anak di beri stempel nakal. Home Scholling bisa jadi pilihan yang tetap bagi anak untuk tetap belajar dan mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan karakternya dan bertahap untuk mendapatkan treatment perubahan perilaku jika memang itu dibutuhkan.

5. Anak yang sering sakit-sakitan, disabilitas.

kondisi kesehatan anak sangatlah penting untuk energi belajar, anak yang sering sakit-sakitan bisa tertinggal pelajaran di sekolah dengan kurikulum klasikal sehingga si anak tidak nyaman dalam belajar dan prestasi dan pemehaman aktivitas belajar jadi jauh dari yang ditargetkan.

6. Anak yang membantu orang tua berdagang atau aktivitas penunjang ekonomi keluarga.

Anak yang lebih rajin membantu orang tua dalam dunia usahanya atau ikut dalam mempertahankan perekonomian keluarga. Home Schooling bisa jadi pilihan cara yang tepat bagi si anak. Si anak akan tetap belajar dan mengatur waktu belajar sesuai dengan yang diinginkan dan tetap mendapatkan pengakuan (Ijazah) yang di akui dalam dunia pendidikan.

7. Anak dari Orang Tua yang Berprofesi Travelling.

Ketika orang tua memiliki profesi yang berpindah-pindah, Home Schooling bisa menjadi sebuah alternatif belajar bagi anak-anaknya. Karena Home schooling saat ini juga bisa dilakukan secara daring. Sebelum era Pandemi pun Home Schooling juga bisa dilakukan secara daring lho, namun belakangan ini istilah Home Schooling sepertinya akan menjadi trending topik kembali. Karena Sekolah Reguler Klasikal yang akhirnya juga dilakukan di rumah menjadi sebuah narasi dan diskusi tersendiri bagi para praktisi Home Schooling.

8. Anak tidak memiliki motivasi berangkat sekolah.

Tentunya ada sebabnya ketika anak tidak memiliki motivasi berangkat sekolah, atau mogok sekolah. Pamitnya ke sekolah ternyata tidak sampai di sekolah. Hal ini perlu digali lebih lanjut kenapa anak tidak mau belajar di sekolah, merasa jenuh, terlalu banyak tugas dari guru, atau sampai dengan pikiran yang jenuh dan tidak punya cita-cita untuk dirinya sendiri di masa yang akan datang. Mungkin salah  satu solusinya dengan Home Schooling .

9. Anak Punya Minat dan Passion dan ingin lebih lebih punya waktu untuk Fokus di Minat dan Passionnya.

Ketika anak sudah punya minat dan passion tertentu, maka belajar metode Home Schooling bisa menjadi alternatif baginya.

Contoh, Anak saya yang pertama  Dzulfikar Rasyid saat SMA memutuskan untuk mengambil pembelajaran Home Schooling di bawah asuhan Asah Pena INRII Bekasi.  Saat itu selama SMA dia mengikuti berbagai event kompetisi kopi untuk mengasah passionnya di bidang kopi. Setelah mengikuti Ujian Paket C melanjutkan kuliat di President University Jurusan Bussiness Administration. Bang Dzul (panggilannya) belajar merencanakan aktivitasnya dan mendiskusi rencana aktivitasnya bersama saya sebagai orang tuanya dan juga ayahnya. Kurikulum untuknya kita diskusikan bersama sejak masih SMP.

Anak saya yang keempat  Shafinna Az Zahra, juga bersepakat dengan saya untuk memutuskan mengambil pembelajaran Home Schooling tingkat SMP (Paket C). Saat artikel ini ditulis Shafinna sedang duduk di kelas 8. Passionnya di Bidang Ilustrasi dapat terasah di waktu-waktu luang di luar pembelajaran. Serta Skill kemuslimahan yang kami buat kurikulumnya dengan shafinna sebagai anak perempuan muslim.

Jadi Sahabat Bunda Irma,

9 ciri anak yang cocok untuk home schooling tersebut di atas tidak mutlak ya. Diskusikan kembali permasalahan anak kepada ahlinya. Tentunya semua orang tua menginginkan kurikulum pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.

Ketika memutuskan untuk memilih program Home Schooling bisa ada pemicunya yaitu permasalahan anak, namun jangan melupakan bahwa semua anak adalah unik dan memiliki potensi diri. Potensi diri apa yang terpendam dalam diri anak, bagaimana cara berkomunikasinya dengan tepat, bagaimana cara belajarnya, bagaimana kalibrasinya jika anak bosan beraktivitas semua hal tentang anak dan bagaimana proses cara berfikitnya serta otak mana yang lebih dominan dalam diri anak,  bisa digali dengan sebuah Tes, yaitu Tes STIFIN. 

Supaya masalah yang dihadapi menjadi sebuah tantangan dan tetapi terus berikhtiar mencari solusinya. Menjadikan kehidupan anak dalam keluarga dan masyarakat semakin bermakna. Setelah memutuskan apakah siap menjalani Home Schooling atau tetap mengikuti Sekolah system klasikal, jangan lupa untuk Tes STIFIN ya.

Bunda Irma Nirmala

Praktisi Homeschooling-Licence Trainer dan Promotor STIFIN 

Bekasi, 7 Oktober 2020

 

 

 

Leave a Comment